Jangan Mudah Mengumbar Lisan

Alhamdulillah puji dan syukur kepada
Allah ﻪﻧﺎﺤﺒﺳ ﻰﻟﺎﻌﺗﻭ atas segala ni’mat
dan karunia serta kesempatan yang
diberikan kepada saya untuk menyusun
sebuah tulisan sederhana, dengan harapan
mudah-mudahan apa yang saya tulis ini
bermanfa’at buat kita semua terutama
untuk saya sendiri, karena sebetulnya
yang pantas untuk saya nasehati adalah
diri saya pribadi sebelum orang lain,
Shalawat serta salam semoga tercurah
kepada Nabi kita Muhammad ﻰﻠﺻ ﻪﻠﻟﺍ
ﻢﻠﺳﻭ ﻪﻴﻠﻋ ,
Sesungguhnya Allah ﻪﻧﺎﺤﺒﺳ ﻰﻟﺎﻌﺗﻭ
telah berwasiat kepada seluruh ummat
manusia, baik ummat-ummat terdahulu
maupun ummat akhir zaman dengan
wasiat yang agung, yaitu agar mereka
bertaqwa kepada Allah ﻪﻧﺎﺤﺒﺳ ﻰﻟﺎﻌﺗﻭ ,
sebagaimana firman Allah ﻪﻧﺎﺤﺒﺳ
ﻰﻟﺎﻌﺗﻭ :
ﺎَﻨْﻴَّﺻَﻭ ْﺪَﻘَﻟَﻭ َﻦﻳِﺬَّﻟﺍ ﺍﻮُﺗﻭُﺃ َﺏﺎَﺘِﻜْﻟﺍ ﻦِﻣ
ْﻢُﻜِﻠْﺒَﻗ ْﻢُﻛﺎَّﻳِﺇَﻭ ِﻥَﺃ ﺍﻮُﻘَّﺗﺍ َﻪَّﻠﻟﺍ ۚ
“dan sungguh Kami telah memerintahkan
kepada orang-orang yang diberi kitab
sebelum kamu dan (juga) kepada kamu;
bertakwalah kepada Allah”[1]
Dan jika kita memperhatikan di dalam
Al-Qur’an sangat banyak sekali ayat-
ayat yang memerintahkan kita untuk
bertaqwa, seperti diantaranya firman
Allah ﻪﻧﺎﺤﺒﺳ ﻰﻟﺎﻌﺗﻭ , yang sering kita
baca atau kita dengar
ﺎَﻬُّﻳَﺃ ﺎَﻳ َﻦﻳِﺬَّﻟﺍ ﺍﻮُﻨَﻣﺁ ﺍﻮُﻘَّﺗﺍ َﻪَّﻠﻟﺍ َّﻖَﺣ ِﻪِﺗﺎَﻘُﺗ
َّﻦُﺗﻮُﻤَﺗ ﺎَﻟَﻭ ﺎَّﻟِﺇ ﻢُﺘﻧَﺃَﻭ َﻥﻮُﻤِﻠْﺴُّﻣ
“Hai orang-orang yang beriman,
bertakwalah kepada Allah sebenar-benar
takwa kepada-Nya; dan janganlah
sekali-kali kamu mati melainkan dalam
keadaan beragama Islam”[2]
Di ayat yang lain Allah ﻪﻧﺎﺤﺒﺳ ﻰﻟﺎﻌﺗﻭ
berfirman:
ﺎَﻳ ُﺱﺎَّﻨﻟﺍ ﺎَﻬُّﻳَﺃ ﺍﻮُﻘَّﺗﺍ ُﻢُﻜَّﺑَﺭ ﻱِﺬَّﻟﺍ ﻢُﻜَﻘَﻠَﺧ
ﻦِّﻣ ٍﺲْﻔَّﻧ َﻖَﻠَﺧَﻭ ٍﺓَﺪِﺣﺍَﻭ ﺎَﻬْﻨِﻣ َّﺚَﺑَﻭ ﺎَﻬَﺟْﻭَﺯ
ﺎًﻟﺎَﺟِﺭ ﺎَﻤُﻬْﻨِﻣ ﺍًﺮﻴِﺜَﻛ ۚ ًﺀﺎَﺴِﻧَﻭ ﺍﻮُﻘَّﺗﺍَﻭ َﻪَّﻠﻟﺍ
َﻥﻮُﻟَﺀﺎَﺴَﺗ ﻱِﺬَّﻟﺍ َﻡﺎَﺣْﺭَﺄْﻟﺍَﻭ ِﻪِﺑ َّﻥِﺇ ۚ َﻪَّﻠﻟﺍ َﻥﺎَﻛ
ْﻢُﻜْﻴَﻠَﻋ ﺎًﺒﻴِﻗَﺭ
“Hai sekalian manusia, bertakwalah
kepada Tuhan-mu yang telah
menciptakan kamu dari seorang diri, dan
dari padanya Allah menciptakan
isterinya; dan dari pada keduanya Allah
memperkembang biakkan laki-laki dan
perempuan yang banyak. Dan
bertakwalah kepada Allah yang dengan
(mempergunakan) nama-Nya kamu saling
meminta satu sama lain, dan (peliharalah)
hubungan silaturrahim. Sesungguhnya
Allah selalu menjaga dan mengawasi
kamu”[3]
Rasulullah ﻰﻠﺻ ﻪﻠﻟﺍ ﻢﻠﺳﻭ ﻪﻴﻠﻋ
bersabda dalam khutbahnya pada haji
wada’
ﻢﻜﻴﺻﻭﺃ ﻯﻮﻘﺘﺑ ﻪَّﻠﻟﺍ ﺔﻋﺎﻄﻟﺍﻭ ﻊﻤﺴﻟﺍﻭ
ﻥﺇﻭ ﺍﺪﺒﻋ ﻥﺎﻛ ﺎﻴﺸﺒﺣ ﻪﻧﺈﻓ ، ﻦﻣ ﺶﻌﻳ
ﻢﻜﻨﻣ ﻯﺮﻴﺴﻓ ﺎﻓﻼﺘﺧﺇ ﺍﺮﻴﺜﻛ ﻢﻜﻴﻠﻌﻓ
ﻲﺘﻨﺴﺑ ِﺔﻨﺳﻭ ﺀﺎﻔﻠﺨﻟﺍ ﻦﻳﺪﺷﺍﺮﻟﺍ ﻦﻴﻳﺪﻬﻤﻟﺍ
ﻱﺪﻌﺑ ﻦﻣ ﺍﻮﻜﺴﻤﺗ ﺎﻬﺑ ﺍﻮﻀﻋﻭ ﺎﻬﻴﻠﻋ
ِﺬِﺟﺍﻮﻨﻟﺎﺑ ﻢﻛﺎﻳﺇﻭ ، ﺕﺎﺛﺪﺤﻣﻭ ﺭﻮﻣﻷﺍ ، ﻥﺈﻓ
ﺔﺛﺪﺤﻣ ﻞﻛ ٌﺔﻋﺪِﺑ ﻞﻛﻭ ٍﺔﻋﺪﺑ ﺔﻟﻼﺿ
“Aku wasiatkan kepada kalian agar
bertaqwa kepada Allah mendengar dan
ta’at (kepada pemerintah) walaupun (yang
memerintah kalian) seorang budak dari
Negri Habasyah, maka sesungguhnya
orang yang hidup diantara kalian
(setelahku nanti) akan melihat perselisihan
yang banyak, maka hendaknya kalian
berpegang dengan Sunnahku dan
Sunnahnya para khulafa’ur rashidin yang
terbimbing setelahku, berpegang teguhlah
dengannya, gigitlah dengan gigi geraham,
dan hendaknya kalian berhati-hati dengan
perkara baru, karena setiap paerkara
yang baru adalah bid’ah dan setiap bid’ah
adalah kesesatan”[4]
Dan juga misalnya ketika Rasulullah
ﻰﻠﺻ ﻪﻠﻟﺍ ﻢﻠﺳﻭ ﻪﻴﻠﻋ berwasiat kepada
mu’adz ﻰﺿﺭ ﻪﻠﻟﺍ ﻪﻨﻋ
ِﻖَّﺗﺍ َﻪﻠﻟﺍ َﺖْﻨُﻛ ﺎَﻤُﺜْﻴَﺣ ِﻊِﺒْﺗَﺃَﻭ َﺔَﺌِّﻴَّﺴﻟﺍ ﺔَﻨَﺴَﺤﻟﺍ
ﺎَﻬُﺤْﻤَﺗ َﺱﺎَّﻨﻟﺍ ﻖِﻟﺎَﺧَﻭ ٍﻖُﻠُﺨِﺑ ٍﻦَﺴَﺣ
“bertaqwalah engkau kepada Allah
dimanapun engkau berada, dan ikutilah
perbuatan jelek dengan amal kebaikan
niscaya akan menghapusnya, dan
pergaulilah manusia dengan akhlaq yang
baik”[5]
Dan masih banyak lagi ayat-ayat dan
hadits Nabi ﻰﻠﺻ ﻪﻴﻠﻋ ﻪﻠﻟﺍ ﻢﻠﺳﻭ
lainnya yang memerintahkan kita agar
bertaqwa kepada Allah ﻪﻧﺎﺤﺒﺳ ﻰﻟﺎﻌﺗﻭ ,
sehingga sudah cukup menjadi bukti atau
dalil betapa pentingnya kedudukan taqwa
bagi seorang hamba,
Oleh karena itulah Allah ﻪﻧﺎﺤﺒﺳ ﻰﻟﺎﻌﺗﻭ
menjadikan barometer atau tolak ukur
kemuliaan seorang hamba di sisi-Nya
adalah sejauh mana atau seberapa besar
ketaqwaannya kepada Allah ﻪﻧﺎﺤﺒﺳ
ﻰﻟﺎﻌﺗﻭ, sebagaimana firman Allah
ﻪﻧﺎﺤﺒﺳ ﻰﻟﺎﻌﺗﻭ yang insya’Allah sudah
sama-sama kita hafal
َّﻥِﺇ ْﻢُﻜَﻣَﺮْﻛَﺃ َﺪﻨِﻋ ِﻪَّﻠﻟﺍ ْﻢُﻛﺎَﻘْﺗَﺃ ۚ
“Sesungguhnya orang yang paling mulia
diantara kamu disisi Allah ialah orang
yang paling takwa diantara kamu”[6]
Dengan demikian marilah kita berusaha
untuk menjadi hamba-hamba-Nya yang
bertaqwa,
Dan sebetulnya banyak sekali telah
disebutkan baik di dalam Al-Qur’an
maupun Hadits-hadits Nabi perkara-
perkara yang seharusnya kita perhatikan
yang dapat mengantarkan seseorang
menjadi hamba yang bertaqwa,
Namun pada tulisan saya kali ini
mungkin hanya akan saya angkat satu
perkara saja agar supaya pembahasannya
tidak terlalu panjang, dengan segala
keterbatasan apa yang saya miliki dan
sedikitnya ilmu yang saya ketahui, namun
semoga dapat sama-sama kita pahami
bersama,
Dan salah satu diantara perkara
tersebut yang harus diperhatikan oleh
seseorang yang menginginkan dirinya
agar menjadi seorang hamba yang
bertaqwa adalah hendaknya ia berusaha
untuk menjaga lisannya, yaitu agar
memperhatikan setiap apa yang ia
ucapkan agar selalu berkata yang baik
dan berusaha menghindari ucapan buruk
atau kotor, dengan kata lain seperti judul
yang saya buat dalam tulisan ini Jangan
Mudah Mengumbar Lisan
Allah ﻪﻧﺎﺤﺒﺳ ﻰﻟﺎﻌﺗﻭ berfirman:
ﺎَﻬُّﻳَﺃ ﺎَﻳ َﻦﻳِﺬَّﻟﺍ ﺍﻮُﻨَﻣﺁ ﺍﻮُﻘَّﺗﺍ َﻪَّﻠﻟﺍ ﺍﻮُﻟﻮُﻗَﻭ
ﺎًﻟْﻮَﻗ ﺍًﺪﻳِﺪَﺳ ْﺢِﻠْﺼُﻳ ْﻢُﻜَﻟ ْﺮِﻔْﻐَﻳَﻭ ْﻢُﻜَﻟﺎَﻤْﻋَﺃ
ْﻢُﻜَﻟ ْﻢُﻜَﺑﻮُﻧُﺫ ﻦَﻣَﻭ ۗ ِﻊِﻄُﻳ َﻪَّﻠﻟﺍ ْﺪَﻘَﻓ ُﻪَﻟﻮُﺳَﺭَﻭ
ﺍًﺯْﻮَﻓ َﺯﺎَﻓ ﺎًﻤﻴِﻈَﻋ
“Hai orang-orang yang beriman,
bertakwalah kamu kepada Allah dan
katakanlah perkataan yang benar,
niscaya Allah memperbaiki bagimu
amalan-amalanmu dan mengampuni
bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa
mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka
sesungguhnya ia telah mendapat
kemenangan yang besar”[7]
Asy-Syaikh As-Sa’dy berkata dalam
kitab tafsirnya:
ﻦﻣﻭ ﻝﻮﻘﻟﺍ ،ﺪﻳﺪﺴﻟﺍ ﻦﻴﻟ ﻡﻼﻜﻟﺍ ،ﻪﻔﻄﻟﻭ
ﺔﺒﻃﺎﺨﻣ ﻲﻓ ،ﻡﺎﻧﻷﺍ ﻝﻮﻘﻟﺍﻭ ﻦﻤﻀﺘﻤﻟﺍ
ﺢﺼﻨﻠﻟ ،ﺓﺭﺎﺷﻹﺍﻭ ﺎﻤﺑ ﻮﻫ ﺢﻠﺻﻷﺍ
Dan diantara yang termasuk al-qaulus
sadid (perkataan yang baik) adalah:
berkata lemah lembut dan santun ketika
berbicara kepada manusia, dan juga
perkataan yang mengandung nasehat, dan
isyarat untuk kebaikan[8]
Rasulullah ﻰﻠﺻ ﻪﻠﻟﺍ ﻢﻠﺳﻭ ﻪﻴﻠﻋ
bersabda:
ْﻦَﻣ َﻥﺎَﻛ ُﻦِﻣْﺆُﻳ ِﻪَّﻠﻟﺎِﺑ ِﻡْﻮَﻴْﻟﺍَﻭ ْﻞُﻘَﻴْﻠَﻓ ِﺮِﺧﺂْﻟﺍ
ْﻭَﺃ ﺍًﺮْﻴَﺧ ْﺖُﻤْﺼَﻴِﻟ
“Barangsiapa beriman kepada Allah dan
hari akhir, hendaklah dia berkata yang
baik atau diam.”[9]
Mengapa kita diperintahkan untuk
menjaga lisan..?
Karena tidak dipungkiri lagi bahwa
kebanyakan kesalahan yang diperbuat
manusia dilakukan oleh lisannya,
Rasulullah ﻰﻠﺻ ﻪﻴﻠﻋ ﻪﻠﻟﺍ ﻞﺳﻭ
bersabda:
ُﺮَﺜْﻛَﺃ ﺎَﻳﺎَﻄَﺧ ِﻦْﺑِﺇ َﻡَﺩﺁ ﻲِﻓ ِﻪِﻧﺎَﺴِﻟ
“Mayoritas kesalahan anak Adam adalah
pada lidahnya (lisannya)”[10]
Beliau ﻰﻠﺻ ﻪﻠﻟﺍ ﻢﻠﺳﻭ ﻪﻴﻠﻋ juga
bersabda:
َّﻥﺇ َﺪﺒﻌﻟﺍ ﻢَّﻠﻜﺘﻴﻟ ﺔﻤﻠﻜﻟﺎﺑ ﺎﻣ ﺎﻣ ﻦَّﻴﺒﺘﻳ
،ﺎﻬﻴﻓ ﻱﻮﻬﻳ ﺎﻬﺑ ﺭﺎﻨﻟﺍ ﻲﻓ ﺎﻣ َﺪﻌﺑﺃ ﻦﻴﺑ
ﻕﺮﺸﻤﻟﺍ ﺏﺮﻐﻤﻟﺍﻭ
“Sesungguhnya seorang hamba akan
berkata dengan satu kalimat yang tidak ia
perhatikan apa yang ada dalam kalimat
tersebut, yang akan menjerumuskannya
ke dalam neraka yang jauhnya antara
timur dan barat”[11]
Dan telah terbukti di tengah-tengah
masyarakat, banyak sekali kesalahan-
kesalahan yang dilakukan oleh lisan,
begitu ringannya seseorang mengghibah
saudaranya, mengadu domba, mencaci
maki, mengumpat, dan begitu mudahnya
memfitnah orang lain, serta kesalahan-
kesalahan lain, yang semuanya itu telah
dilarang dalam Syari’at Islam,
Seperti misalnya disebutkan dalam Al-
Qur’an agar kita jangan sampai berbuat
demikian, Allah ﻪﻧﺎﺤﺒﺳ ﻰﻟﺎﻌﺗﻭ
berfirman:
ﺎَﻬُّﻳَﺃ ﺎَﻳ َﻦﻳِﺬَّﻟﺍ ﺍﻮُﻨَﻣﺁ ﺍﻮُﺒِﻨَﺘْﺟﺍ ﺍًﺮﻴِﺜَﻛ َﻦِﻣ
ِّﻦَّﻈﻟﺍ َّﻥِﺇ َﺾْﻌَﺑ ِّﻦَّﻈﻟﺍ ٌﻢْﺛِﺇ ﺍﻮُﺴَّﺴَﺠَﺗ ﻻَﻭ ﻻَﻭ
ْﺐَﺘْﻐَﻳ ْﻢُﻜُﻀْﻌَﺑ ﺎًﻀْﻌَﺑ ُّﺐِﺤُﻳَﺃ ْﻥَﺃ ْﻢُﻛُﺪَﺣَﺃ َﻞُﻛْﺄَﻳ
َﻢْﺤَﻟ ﺎًﺘْﻴَﻣ ِﻪﻴِﺧَﺃ ُﻩﻮُﻤُﺘْﻫِﺮَﻜَﻓ ﺍﻮُﻘَّﺗﺍَﻭ َّﻥِﺇ َﻪَّﻠﻟﺍ
َﻪَّﻠﻟﺍ ٌﺏﺍَّﻮَﺗ ٌﻢﻴِﺣَﺭ
“Hai orang-orang yang beriman,
jauhilah kebanyakan prasangka
(kecurigaan), karena sebagian dari
prasangka itu dosa. dan janganlah
mencari-cari keburukan orang dan
janganlah sebagian kalian menggunjingkan
(ghibah) sebagian yang lain. Adakah
seorang di antara kamu yang suka
memakan daging saudaranya yang sudah
mati? Maka tentulah kamu merasa jijik
kepadanya. dan bertakwalah kepada
Allah. Sesungguhnya Allah Maha
Penerima taubat lagi Maha
Penyayang.”[12]
Rasulullah ﻰﻠﺻ ﻪﻠﻟﺍ ﻢﻠﺳﻭ ﻪﻴﻠﻋ
bersabda:
ﺎَﻣ َﻥﻭُﺭْﺪَﺗَﺃ ُﺔَﺒﻴِﻐْﻟﺍ ﺍﻮُﻟﺎَﻗ ُﻪُﻟﻮُﺳَﺭَﻭ ُﻪَّﻠﻟﺍ ُﻢَﻠْﻋَﺃ
َﻝﺎَﻗ َﻙُﺮْﻛِﺫ َﻙﺎَﺧَﺃ ُﻩَﺮْﻜَﻳ ﺎَﻤِﺑ َﻞﻴِﻗ ْﻥِﺇ َﺖْﻳَﺃَﺮَﻓَﺃ
ﻲِﻓ َﻥﺎَﻛ ﺎَﻣ ﻲِﺧَﺃ ُﻝﻮُﻗَﺃ ْﻥِﺇ َﻝﺎَﻗ َﻥﺎَﻛ ِﻪﻴِﻓ
ﺎَﻣ ُﻝﻮُﻘَﺗ ُﻪَﺘْﺒَﺘْﻏﺍ ْﺪَﻘَﻓ ْﻢَﻟ ْﻥِﺇَﻭ ْﻦُﻜَﻳ ِﻪﻴِﻓ
ْﺪَﻘَﻓ ُﻪَّﺘَﻬَﺑ
“Tahukah kalian apa itu ghibah?”,
Mereka menjawab, “Allah dan Rasul-
Nya yang lebih tahu.” Beliau bersabda,
“Yaitu engkau menceritakan tentang
saudaramu yang membuatnya tidak suka.”
Lalu ditanyakan kepada beliau, “Lalu
bagaimana apabila pada diri saudara
saya itu kenyataannya sebagaimana yang
saya ungkapkan?” Maka beliau bersabda,
“Apabila cerita yang engkau katakan itu
sesuai dengan kenyataan maka engkau
telah meng-ghibahinya. Dan apabila
ternyata tidak sesuai dengan kenyataan
dirinya maka engkau telah berdusta atas
namanya (berbuat buhtan).”[13]
Padahal seorang muslim itu hendaknya
muslim yang lain merasa aman darinya,
sebagaimana sabda Rasulullah ﻰﻠﺻ ﻪﻠﻟﺍ
ﻢﻠﺳﻭ ﻪﻴﻠﻋ :
ُﻢِﻠْﺴُﻤﻟﺍ ْﻦَﻣ َﻢِﻠَﺳ َﻥْﻮُﻤِﻠْﺴُﻤﻟﺍ ْﻦِﻣ ِﻪِﻧﺎَﺴِﻟ
ِﻩِﺪَﻳَﻭ
“Muslim itu adalah seseorang yang
muslim yang lain aman dari lisan dan
tangannya”[14]
Artinya bahwa seorang muslim itu tidak
akan pernah mengganggu saudaranya
baik dengan ucapan maupun tangannya,
dia akan berusaha agar jangan sampai
menyakiti saudaranya, sehingga
saudaranya pun merasa aman darinya,
Namun kenyataan yang terjadi banyak
yang mengaku muslim namun masih suka
mencela saudaranya, menggunjing orang
lain, menuduh sembarangan tanpa bukti,
bersumpah palsu, dan kesalahan-
kesalahan lain yang dilakukan oleh lisan
yang sering kita jumpai di tengah-tengah
masyarakat yang kebanyakan karena
memang mereka belum memahami
Syari’at, sehingga terjadilah
penyimpangan-penyimpangan dalam
masalah lisan ini,
Melihat kenyataan tersebut semestinya
kita berusaha untuk berhati-hati agar
jangan sampai melakukan hal tersebut,
dengan cara mempelajari Syari’at Islam
ini dengan benar, karena hanya dengan
belajarlah kita bisa mengetahui apa yang
seharusnya kita amalkan dan mengetauhi
apa saja yang menjadi larangan-larangan
Allah ﻪﻧﺎﺤﺒﺳ ﻰﻟﺎﻌﺗﻭ ,
Dan saya rasa sudah cukup banyak
artikel-artikel yang membahas tentang
kesalahan-kesalahan lisan dan
bahayanya, dengan demikian tidak perlu
saya bahas kembali, namun yang ingin
saya tekankan dalam tulisan saya ini
hanyalah sebatas bagaimana usaha kita
untuk menjaga lisan kita ini, agar selalu
berkata benar, bertutur kata yang baik,
dan menghindari ucapan-ucapan buruk
serta kotor yang dapat menyakiti orang
lain serta mengundang kemurkaan Allah
ﻪﻧﺎﺤﺒﺳ ﻰﻟﺎﻌﺗﻭ ,
Berkaitan dengan hal tersebut untuk
motifasi diri kita terutama saya pribadi
agar senantiasa terdorong untuk selalu
menjaga lisan kapan pun dan dimana pun
kita berada, untuk itu mari kita
perhatikan Sabda Rasulullah ﻰﻠﺻ ﻪﻠﻟﺍ
ﻢﻠﺳﻭ ﻪﻴﻠﻋ :
ﺎَﻟ ُﻢﻴِﻘَﺘْﺴَﻳ ُﻥﺎَﻤﻳِﺇ ٍﺪْﺒَﻋ ﻰَّﺘَﺣ َﻢﻴِﻘَﺘْﺴَﻳ ُﻪُﺒْﻠَﻗ
ﺎَﻟَﻭ ُﻢﻴِﻘَﺘْﺴَﻳ ُﻪُﺒْﻠَﻗ ﻰَّﺘَﺣ َﻢﻴِﻘَﺘْﺴَﻳ ُﻪُﻧﺎَﺴِﻟ ﺎَﻟَﻭ
ُﻞُﺧْﺪَﻳ ٌﻞُﺟَﺭ َﺔَّﻨَﺠْﻟﺍ ﺎَﻟ ُﻩُﺭﺎَﺟ ُﻦَﻣْﺄَﻳ ُﻪَﻘِﺋﺍَﻮَﺑ
“Iman seorang hamba tidak akan
istiqamah, sehingga hatinya istiqamah.
Dan hati seorang hamba tidak akan
istiqamah, sehingga lisannya istiqamah.
Dan tidak akan masuk surga seseorang
yang tetangganya tidak aman dari
kejahatan-kejahatannya”[15]
Di hadits yang lain Beliau ﻰﻠﺻ ﻪﻠﻟﺍ
ﻢﻠﺳﻭ ﻪﻴﻠﻋ bersabda:
ﺍَﺫِﺇ َﺢَﺒْﺻَﺃ ُﻦْﺑﺍ َﻡَﺩﺁ َّﻥِﺈَﻓ َﺀﺎَﻀْﻋَﺄْﻟﺍ ﺎَﻬَّﻠُﻛ ُﺮِّﻔَﻜُﺗ
َﻥﺎَﺴِّﻠﻟﺍ ُﻝﻮُﻘَﺘَﻓ ِﻖَّﺗﺍ َﻪَّﻠﻟﺍ ﺎَﻨﻴِﻓ ﺎَﻤَّﻧِﺈَﻓ ُﻦْﺤَﻧ
َﻚِﺑ ْﻥِﺈَﻓ ﺎَﻨْﻤَﻘَﺘْﺳﺍ َﺖْﻤَﻘَﺘْﺳﺍ َﺖْﺠَﺟَﻮْﻋﺍ ْﻥِﺇَﻭ
ﺎَﻨْﺠَﺟَﻮْﻋﺍ
“Jika anak Adam memasuki pagi hari
sesungguhnya semua anggota badannya
berkata merendah kepada lisan,
“Takwalah kepada Allah di dalam
menjaga hak-hak kami, sesungguhnya
kami ini tergantung kepadamu. Jika
engkau istiqamah, maka kami juga
istiqamah, jika engkau menyimpang (dari
jalan petunjuk), kami juga
menyimpang”[16]
Sehingga pantaslah jika Rasulullah ﻰﻠﺻ
ﻪﻠﻟﺍ ﻢﻠﺳﻭ ﻪﻴﻠﻋ menjanjikan Surga bagi
siapa saja yang berusaha dan mampu
menjaga lisannya, seperti dalam sabda
Beliau ﻰﻠﺻ ﻪﻠﻟﺍ ﻢﻠﺳﻭ ﻪﻴﻠﻋ :
ْﻦَﻣ ْﻦَﻤْﻀَﻳ ﺎَﻣ ﻲِﻟ َﻦْﻴَﺑ ِﻪْﻴَﻴْﺤَﻟ ﺎَﻣَﻭ َﻦْﻴَﺑ
ِﻪْﻴَﻠْﺟِﺭ ُﻪَﻟ ْﻦَﻤْﺿَﺃ َﺔَّﻨَﺠْﻟﺍ
“Siapa yang menjamin untukku apa yang
ada di antara dua rahangnya dan apa
yang ada di antara dua kakinya, niscaya
aku menjamin surga baginya”[17]
Maka dengan demikian setelah kita
mengetauhui beberapa dalil yang saya
sebutkan di atas (walaupun hanya
beberapa saja namun mudah-mudahan
sudah cukup mewakili), maka tidak ada
yang pantas untuk kita penjarakan secara
berkepanjangan selain dari lisan kita,
sebagaimana perkataan salah seorang
Shahabat yang mulia yang bernama Ibnu
Mas’ud ﻰﺿﺭ ﻪﻠﻟﺍ ﺎﻤﻬﻨﻋ beliau berkata:
ﺎَﻣ َﺀْﻲَﺷ ﻰَﻟﺇ ُﺝَﻮْﺣﺃ ِﻝْﻮﻃ ٍﻦْﺠِﺳ ْﻦِﻣ
ﻲِﻧﺎَﺴِﻟ
“Tidak ada sesuatu yang pantas untuk
aku penjarakan secara berkepanjangan
selain dari pada lisanku”[18]
Di kesempatan yang lain Beliau ﻰﺿﺭ
ﻪﻠﻟﺍ ﺎﻤﻬﻨﻋ juga berkata:
ْﻢُﻛﺎَﻳﺇ َﻭ ُﻝْﻮُﻀُﻓ ِﻡﻼَﻜﻟﺍ َﺐْﺴَﺣ ﺎَﻣ ٍﺉِﺮْﻣﺍ َﻎَﻠَﺑ
ُﻪُﺘَﺟﺎَﺣ
“Jauhilah oleh kalian berlebih-lebihan
dalam berbicara, sudah cukup seseorang
itu (berbicara) setelah terpenuhi
kebutuhannya”[19]
Dan perhatikan pula perkataan para
Salaf yang lain
Samit bin ‘Ajlan ﻪﻤﺣﺭ ﻰﻟﺎﻌﺗ ﻪﻠﻟﺍ
berkata
ﺎﻳ َﻦْﺑﺍ ﻡَﺩﺁ َﻚَّﻧﺇ ﺎَﻣ َﺖَﻜَﺳ َﺖْﻧﺄَﻓ ﺍﺫﺈَﻓ ٌﻢِﻟﺎَﺳ
َﺖْﻤّﻠﻜَﺗ ْﺬُﺨَﻓ َﻙَﺭْﺬَﺣ ﺎَّﻣﺇ َﻚﻟ َﻭ ﺎَّﻣﺇ َﻚْﻴﻠَﻋ
“Wahai anak Adam, sesungguhnya
selama engkau diam maka engkau akan
selamat, maka jika engkau berbicara
hendaknya berhati-hatilah, karena
perkataan itu bisa jadi akan menjadi
penolongmu atau bisa jadi malah menjadi
bumerang bagimu”[20]
Abdullah bin Mu’taz ﻪﻤﺣﺭ ﻰﻟﺎﻌﺗ ﻪﻠﻟﺍ
berkata:
َّﻢَﺗ ﺍَﺫﺇ ُﻞْﻘَﻌﻟﺍ ُﻡﺎَﻠَﻜﻟﺍ َﺺَﻘَﻧ
“Jika akal seseorang itu sempurna maka
dia tidak akan banyak bicara”[21]
Demikian ya ikhwan apa yang bisa saya
tulis, semoga yang sedikit ini bermanfa’at
terutama buat saya pribadi agar lebih
berhati-hati dalam menjaga lisan, mohon
ma’af jika ada kekurangan dan
kesalahan, segala yang benar datangnya
dari Allah ﻪﻧﺎﺤﺒﺳ ﻰﻟﺎﻌﺗﻭ dan yang
salah adalah dari saya dan syaithan,
tidak lupa mohon kritik dan sarannya jika
memang ada yang perlu diperbaiki, atau
mungkin ada tambahan agar dapat lebih
memberikan manfa’at yang banyak buat
kita semua insya’Allah.
Ditulis di Bumi Cileungsi
Pada Tanggal 27 Muharam 1434 H,
bertepatan dengan 10 Desember 2012 M
Saudara Antum yang mencintai Antum
karena Allah
Abu Hanifah ‘Alim bin Iryani Heri
Atmaja bin Martadimulya bin
Mangunharja bin Mangun Ali Mudi
Mangun Negara Al-Bantuliy
[1] Surat An-Nisa : Ayat-131
[2] Surat Ali Imran : Ayat-102
[3] Surat An-Nisa : Ayat-200
[4]Hadits Riwayat Abu Dawud,
Ahmad, dan yang lainnya ﺢﻴﺤﺻ – ﻩﺍﻭﺭ
ﺩﻭﺍﺩ ﻮﺑﺃ ﺏﺎﺘﻛ 4) ﺔﻨﺴﻟﺍ / ﻢﻗﺭ) (200 :
(4607 ، ﺪﻤﺣﺃﻭ 4) / -126 ، (127 ﻱﺮﺟﻵﺍﻭ
ﺔﻌﻳﺮﺸﻟﺍ ﻲﻓ ﺹ) ، (46 ﻦﺑﺍﻭ ، ﻲﺑﺃ ﻢﺻﺎﻋ
ﻲﻓ ” ﺏﺎﺘﻛ ” ﺔﻨﺴﻟﺍ 1) / (19 ﻢﻗﺭ) 32 : ،
(57 ﺍﺮﺼﺘﺨﻣ ﻦﺑﺍﻭ ، ﻥﺎﺒﺣ 1) / ﻢﻗﺭ) (178 :
ﻢﻬﻠﻛ (5 ﻦﻣ ﺪﻴﻟﻮﻟﺍ ﻖﻳﺮﻃ ﻢﻠﺴﻣ ﻦﺑ ﺎﻨﺛﺪﺣ
ﺭﻮﺛ ﻦﺑ ﺪﻳﺰﻳ ﻲﻨﺛﺪﺣ ﻦﺑ ﺪﻟﺎﺧ ﻥﺍﺪﻌﻣ
ﻲﻨﺛﺪﺣ ﺪﺒﻋ ﻦﺑ ﻦﻤﺣﺮﻟﺍ ﻭﺮﻤﻋ ﻲﻤﻠﺴﻟﺍ
ﻦﺑ ﺮﺠﺣﻭ ﺮْﺠﺣ ﺽﺎﺑﺮﻌﻟﺍ ﻦﻋ
5] ] Hadits Riwayat At-Tirmidzy ﻩﺍﻭﺭ
ﻱﺬﻣﺮﺘﻟﺍ : ﻝﺎﻗﻭ ﻦﺴﺣ .ﺢﻴﺤﺻ
6] ] Surat Al-Hujurat : Ayat-13
[7] Surat Al-Ahzab : Ayat-70-71
[8] Taisir Al-Karim Ar-Rahman
[9] Hadits Riwayat Al-Bukhari (no.
6475) dan Muslim (no. 47), dari Abu
Hurairah ﻰﺿﺭ ﻪﻠﻟﺍ ﻪﻨﻋ
10] ] Hadits Riwayat Thabarani, Ibnu
‘Asakir, dan lainnya. Lihat Silsilah
Ash-Shahihah, no. 534
[11] Hadits Riwayat Al-Bukhari ﻯﻭﺭﻭ
ﻱﺭﺎﺨﺒﻟﺍ ﻲﻓ ﻪﺤﻴﺤﺻ (6477) ﻲﻓ ﻢﻠﺴﻣﻭ
ﻪﺤﻴﺤﺻ ،(2988) ُﻆﻔﻠﻟﺍﻭ ﻢﻠﺴﻤﻟ ﻲﺑﺃ ﻦﻋ
ﺓﺮﻳﺮﻫ
12] ] Surat Al-Hujuuraat: Ayat-12
[13] Hadits Riwayat Muslim. 4/2001.
Dinukil dari Nashihatii lin Nisaa’, hal.
26
[14] Hadits Riwayat Al-Bukhary ﻩﺍﻭﺭ
ﻱﺭﺎﺨﺒﻟﺍ ﻲﻓ ﺏﺎﺘﻛ ﻥﺎﻤﻳﻹﺍ ، ﺏﺎﺑ ﻢﻠﺴﻤﻟﺍ
ﻢﻠﺳ ﻦﻣ ﻥﻮﻤﻠﺴﻤﻟﺍ ﻦﻣ ﻪﻧﺎﺴﻟ ﻩﺪﻳﻭ ،
ﻪﻟ ﻆﻔﻠﻟﺍﻭ ، ﻢﻠﺴﻣﻭ ﻲﻓ ﻲﻓ ﻪﺤﻴﺤﺻ
ﺏﺎﺘﻛ ﻥﺎﻤﻳﻹﺍ ، ﺚﻳﺪﺣ 39 :
15] ] Hadits Riwayat Ahmad, no. 12636,
dihasankan oleh Syaikh Salim Al-Hilali
di dalam Bahjatun Nazhirin, 3/13
[16] Hadits Riwayat Tirmidzi, no. 2407;
dihasankan oleh Syaikh Salim Al-Hilali
di dalam Bahjatun Nazhirin, 3/17, no.
1521) (Jami’ul ‘Uluum wal Hikam,
1/511-512
[17] Hadits Riwayat Al-Bukhari, no.
6474; Tirmidzi, no. 2408; lafazh bagi
Bukhari
[18] Mukhtashar Minhajul Qashidin,
hal.155
[19] Jami’ul Ulum wal Hikam, hal.134
[20] Jami’ul Ulum wal Hikam, hal. 135
[21] Madarijus Salikin, II/52

Apabila Allah memanggilku
ambilah aku dalam keadaan Khusnul
Khotimah (baik di akhir) dan
sempatkanlah aku mengucapkan
kalimat “LA ILAHA ILLALLAH” ,
Berharap agar berakhir Husnul
Khotimah “Ya Rabbi Pencipta langit
dan bumi, Engkaulah Pelindungku di
dunia dan di akhirat, wafatkanlah aku
dalam keadaan Islam dan
gabungkanlah aku dengan orang-orang
yang shaleh”.{QS. Yusuf (12) : 101}

keindahan setiap kata terucap dari keimanan di dalam hati.
….serpihan hati….

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s