Mempersiapkan rumahtangga islami

Mempersiapkan rumahtangga Islami
Membangun sebuah rumahtangga memang tak mudah. Perlu niat yang kuat. Disertai dengan bekal yang cukup.
Bekal yang dimaksud bukan berarti materi, karena hal ini relatif bagi setiap individu. Tapi terlebih adalah bekal
mental yang kuat, seorang wanita mempunyai niat dan kemauan yang kuat untuk menjadi isteri dan ibu yang
shalihah. Demikian juga seorang pria.
Karena tanggung jawab sebagai seorang suami -yang kemudian seorang ayah- dan sebagai seorang isteri –
yang kemudian seorang ibu bukan suatu yang remeh.
Suami dan isteri mempunyai kedudukan yang sama di mata Allah. Jika dalam persoalan waris mewaris ada
perbedaan antara wanita dan pria, itu jelas karena ada alasannya. Di luar itu, semua sama. Tinggal bagaimana
kita melaksanakan kewajiban dan tanggung jawab kita, kepada Allah, kepada pasangan, kepada putra-putri,
kepada keluarga dan sesama.
Sebelum seorang anak terlahir, suami mempunyai tanggungjawab penuh pada isterinya. Dan akan
mempertanggungjawabkan kepada Allah -kelak- bagaimana ia menjadi seorang kepala, seorang pemimpin bagi
isterinya.
Sebelum Allah memberikan amanah seorang anak, seyogyanya suami isteri berusaha semaksimal mungkin
menjadikan rumahtangganya sebagai rumahtangga yang Islami. Antara lain dengan; tidak pernah meninggalkan
jamaah antara suami isteri -kecuali ada halangan yang sangat mendesak dan syar’i; selalu memperdengarkan
lantunan ayat2 Al Qur’an; menghiasi rumah dengan kitab-kitab dan buku-buku Islami untuk mempersiapkan
sang anak nantinya menjadi cinta ilmu; saling mengingatkan dan mendorong untuk melaksanakan syariat agama
sebaik dan semaksimal mungkin. Dan seterusnya.
Perilaku seorang anak -terlebih jika belum usia sekolah- sangat diperngaruhi kedua orangtuanya. Bagaimana
kedua orangtuanya menjalankan kewajiban, tanggungjawab dan hak-hak mereka terhadap anak-anak mereka.
Jika sudah masanya anak-anak bersekolah, sebaiknya jangan memasrahkan sepenuhnya pendidikan anak pada
suatu lembaga, karena tetap lebih banyak waktu anak dihabiskan di tengah keluarga.
Sebagai orangtua kita harus tetap berikhtiar sebaik mungkin, untuk kebaikan anak-anak keturunan
kita….sehingga kita patut berharap takdir yang baik untuk anak-anak dan keluarga kita pada Allah SWT.
Di luar itu semua, teladan adalah yang utamanya. Seorang suami harus memberi teladan yang baik bagi isteri
dan contoh yang baik pula bagi anak-anaknya. Lebih-lebih seorang isteri -atau ibu- yang lebih banyak berperan
dalam perkembangan dan pertumbuhan anak-anak, harus pintar menjaga perilaku dan sikap sehari-harinya.
Karena anak akan meniru baik buruk ibu dan ayahnya.
WaLlahu a’lam.
Semoga Allah melindungi keluarga kita.

keindahan setiap kata terucap dari keimanan di dalam hati.
….serpihan hati….

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s