Politik Kembang Kertas

Oleh: Gina Gustina
Suhu politik saat ini sedang memanas.
Pedangdut dan kuasa hukum sibuk
membangun citra biar bisa jadi presiden,
selebritis rame-rame memboyong diri
dan kawan-kawannya merapat ke
partai, sampai-sampai tukang sulap pun
ngotot kepengen jadi wakil bupati.
Banyak orang yang ingin merasakan
asiknya berdansa di panggung politik.
Ini negara demokrasi. Dari tukang
becak sampai pengusaha, siapa saja
berhak bermimpi menjadi presiden dan
pemimpin daerah. Tapi
permasalahannya, menjadi pemimpin
negara bukanlah semudah memimpin grup
soneta. Selain itu, ini negara yang
kemerdekaannya diraih dari hasil
perjuangan darah dan diplomasi, bukan
karena fenomena klenik seperti sihir dan
magic. Permasalahan negara dan
pemerintahan daerah yang begitu
kompleks tidak mungkin bisa ditangani
oleh jampi-jampi dari trik magic.
Indonesia butuh figur yang mapan dalam
segala konteks kenegaraan dan politik.
Indonesia butuh figur yang menjadi
pemersatu, bukan figur yang
mendiskreditkan golongan atau etnis lain
yang bukan merupakan golongannya,
bukan pula figur yang mencela kinerja
pemerintah-pemerintah daerah di saat
pemerintah daerah menjadi tokoh favorit
masyarakat karena ia berhasil
merealisasikan janji-janjinya. Jangan
sampai negara ini menjadi seperti beras
yang sedang diayak, tidak memiliki
integritas. Bangsa ini bukan bangsa
klenik. Mungkin suatu saat nanti akan
ada pemimpin yang berani memiskinkan
para koruptor, membersihkan jubah
parlemen negara tanpa harus ada ritual
sumpah pocong. Karena negara ini
bukan negara klenik. Pemimpin dan
orang-orang yang duduk di parlemen
haruslah orang-orang yang memiliki
sumber daya politik (relasi, materi,
kemampuan berdinamika dalam berpolitik)
sebagai modal, tidak cukup dengan hanya
niat dan interest saja. Mengadaptasi
kata-kata seorang pengamat politik, pak
Sukardi Rinakit, orang-orang seperti
ini termasuk pemakai “politik kembang
kertas”. Artinya, anak kemarin sore
yang harusnya masih jadi penonton
malah ngotot kepengen jadi pemain.
Bekali diri dulu saja, jangan sampai
menjadi kembang kertas yang tidak
berakar (tidak memiliki kesiapan dan
sumber daya yang cukup) dan tidak
berbau harum (tidak bisa memberikan
manfaat atau kesan baik).

keindahan setiap kata terucap dari keimanan di dalam hati.
….serpihan hati….

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s