Masihkah Cita-cita Menjadi Tujuan Anda?

Setiap orang sewaktu masih kanak-
kanak pastinya memiliki cita-cita.
Entah itu menjadi dokter, pilot, tentara,
bahkan guru. Tapi begitu dewasa,
banyak dari mereka seolah lupa tentang
cita-cita masa lalu mereka. Mereka
sibuk mengejar sesuatu yang mungkin
sebenarnya bukan yang paling mereka
inginkan. Lalu, kenapa demikian?ada
apa dengan cita-cita mereka?
Mereka pastinya bukannya sama sekali
melupakan cita-cita masa lalu mereka.
Terkadang saat mereka teringat
kembali, pastinya ada rasa penyesalan
yang timbul. Bahkan, meski mereka
telah sukses dan punya penghasilan yang
cukup. Banyak faktor yang menyebabkan
mereka terpaksa melupakan mimpi dan
angan-angan mereka. Tuntutan zaman
dan keadaan lah yang seringkali
menyebabkan semua ini.
Misalnya ketika seseorang yang sewaktu
kecil pernah bercita-cita menjadi dokter.
Namun ternyata, keadaan ekonomi
orangtuanya tidaklah mencukupi.
Sehingga mereka tidak mampu untuk
memenuhi biaya pendidikan untuk
menyekolahkan anak mereka ke sekolah
kedokteran. Akhirnya sang anak harus
melupakan cita-citanya tersebut. Hal
ini memang tak bisa dihindari. Jadi,
beruntunglah bagi kita yang berasal dari
keluarga yang berkecukupan. Kita
harus selalu bersyukur atas apa yang
kita miliki.
Contoh kasus lain misalnya, ketika
seseorang memiliki cita-cita, tetapi
orangtua tidak mengizinkannya untuk
mewujudkan cita-cita tersebut. Hal ini
dapat dikarenakan berbagai hal.
Misalnya pekerjaan tersebut dinilai tidak
memiliki masa depan atau mungkin juga
mereka ragu sang anak dapat
mewujudkan cita-citanya tersebut.
Sering kali akhirnya sang anak lah yang
harus mengalah dan menuruti keinginan
orangtuanya. Namun ada juga yang
nekat menentang orangtuanya demi
mewujudkan apa yang diinginkannya.
Hal ini sangat tidak dianjurkan, karena
kesuksesan terhadap apa yang kita
lakukan selalu berdasarkan restu dan
doa orang tua kita. Dan jika tetap
dilakukan, pastilah tidak mendatangkan
berkah dan manfaat bagi kita.
Contoh terakhir dan yang paling sering
saya temui. Misalnya ketika sebenarnya
orangtua telah memberikan kebebasan
sang anak untuk meraih apa yang
diinginkannya. Dan sang anak pun juga
memiliki cita-cita yang ingin
diwujudkannya. Namun cita-citanya
tersebut bukanlah suatu profesi yang
akan mampu menghasilkan banyak uang.
Sesuatu yang sebenarnya sederhana tapi
sangat ingin diwujudkannya. Atau juga
mungkin karena profesi yang dimaksud,
dipandang sebelah mata oleh sebagian
besar masyarakat. Hal ini lah yang
menjadi masalah. Karena tuntutan
zaman, kita seringkali harus membohongi
diri kita sendiri dan tidak mengatakan
tentang apa yang sebenarnya kita
inginkan kepada orangtua kita. Kita
pasti ingin selalu membahagiakan orangtua
kita, Caranya, tentu saja dengan
membuat bangga mereka dengan segala
yang telah kita capai. Maka kita
akhirnya mencoba mewujudkannya.
Misalnya dengan bersekolah di bidang
yang sebenarnya bukan keinginan kita.
Dengan harapan setelah lulus nantinya,
akan mendapat pekerjaan yang layak
dan patut dibanggakan.
Sehingga mari kita renungkan lagi dari
sekarang. Apakah cita-cita anda dulu?
Lalu apakah sekarang anda masih ada
di jalur yang sama untuk mewujudkan
cita-cita anda tersebut? Dan apakah
semua yang anda kerjakan sekarang
merupakan apa yang anda inginkan
sebenarnya? Masihkah cita-cita
menjadi tujuan hidup anda?
Pertanyaan-pertanyaan ini sampai
sekarang saya pun masih belum mampu
menjawabnya.

keindahan setiap kata terucap dari keimanan di dalam hati.
….serpihan hati….

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s