Hercules, diantara Anas dan Prabowo?

Oleh: Thomas Sembiring
Pasca ditetapkan sebagai tersangka oleh
KPK yang didahului oleh permohonan
Presiden SBY saat sedang melakukan
perjalanan umroh dan kontroversi
sprindik, tampak bahwa liputan media
yang hingar bingar tengah beralih ke
Anas. Duren Sawit bahkan disejajarkan
dengan Cikeas karena besarnya arus
liputan dari kediaman Anas yang berada
di daerah tersebut. Tak kurang tokoh-
tokoh besar yang merupakan kolega
Anas dari Korps Alumni HMI turut
menunjukkan keprihatinan dan dukungan
moril bagi Anas dalam menghadapi kasus
hukumnya. Pemberitaan yang ada
tampaknya mulai mengarah ke halaman
berikut versi Anas yang dimulai dengan
perlawanannya melalui wawancara
eksklusif dengan media.
Tak berapa lama, perlawanan udara
melalui media ini tampak layu sebelum
berkembang. Pasalnya kisruh TNI yang
merusak Polres OKU di Palembang
kadung memikat media yang kemudian
nyaris menutup pemberitaan tentang
Anas. Media mengalihkan perhatian
secara besar-besaran pada kisruh TNI
dan Polri karena memang peristiwa ini
sungguh luar biasa menghebohkan.
Polres OKU benar-benar hancur
dilalap api akibat amuk besar para
prajurit TNI yang masih merasakan
ketidakadilan dalam kasus penembakan
kolega mereka.
Tak berselang hitungan hari, sekarang
kita disuguhi lagi menu berita yang tak
kalah menarik. Penangkapan polisi
terhadap Hercules dan kawanannya
sungguh sebuah tindakan yang
menggelitik karena kita tahu bahwa
dalam beberapa bulan ini Hercules lebih
banyak muncul sebagai bagian dari
Gerakan Rakyat Indonesia Baru atau
(GRIB). Tentu kita masih ingat bahwa
Hercules yang memegang komando
GRIB menjadi salah satu ormas yang
memberikan dukungan politik pada
Partai Gerindra dan bahkan terlibat
dalam pemenangan Jokowi-Ahok di
Pilkada Jakarta. Sosok dari pria yang
dikabarkan memiliki kedekatan khusus
dengan Prabowo ini dalam kurun waktu
belakangan lebih banyak muncul sebagai
tokoh ormas ketimbang sebagai seorang
preman besar.
Penangkapan Hercules dan kawanannya
pun terkesan didramatisir. Perhatikan
media yang melukiskan bagaimana pria
yang memang dikenal sebagai seorang
preman besar namun juga salah satu
orang yang turut andil dalam mendukung
integrasi Timor Leste dengan Indonesia
saat operasi militer dikembangkan di
bekas provinsi termuda RI itu. Kesan
dramatisir ini tampak saat polisi
membentak hingga menyuruhnya berjalan
jongkok. Tentu saja, foto yang
menunjukkan bagaimana figur yang
sekian lama menakutkan itu tampak
lemah dihadapan polisi telah menunjukkan
satu kemenangan pada pihak tertentu.
Kemenangan dalam rupa keuntungan
pemberitaan.
Premanisme tentu saja merupakan
sebuah penyakit sosial yang luar biasa
berdampak pada masyarakat kita yang
memang banyak dikendalikan preman.
Mulai dari urusan kelola parkir, anak
jalanan hingga beberapa pekerjaan lain
yang terselubung. Pada konteks
penangkapan Hercules, kita mesti
bertanya dulu bahwa ini merupakan
murni tindakan pembersihan premanisme.
Bukan sebuah tindakan premanisme
berkelas lainnya yang menimpa preman
kelas teri. Jangan lupa bahwa di negeri
ini, premanisme sudah menjadi bagian
dari sistem dan preman yang paling
berbahaya sesungguhnya adalah mereka
yang bersembunyi dibalik jas politisi.
Premanisme kelas teri hingga kelas anak
tiri seperti Hercules tentu saja tidak
dapat langgeng begitu saja bila aturan
hukum dan kebijakan yang ada
ditegakkan. Maka kita perlu menaruh
kesadaran kritis dan melihat dengan
jernih, motiv dibalik penangkapan
Hercules. Biarlah kiranya hukum
ditegakkan dan premanisme diberantas
sampai ke jaringannya. Mulai dari
premanisme para aparatur negara yang
korup hingga premanisme tingkat tinggi
yang mampu merekayasa figur menjadi
seorang malaikat atau setan. Tentu saja
ini semua harus dimulai dari langkah
berani membersihkan aparat hukum dari
preman-preman berjubah yang suka
bermain mata dengan penguasa atau
pengusaha.
Bagi saya, lepas dari persoalan hukum
yang harus ditegakkan. Lagi-lagi ini
merupakan rangkaian yang tak terpisah
dari operasi sama rasa sama rata dari
pihak yang beberapa waktu ini tengah
terpojokkan di media. Bila melihat pola
kisruh politik ini kita dapat melihat
mulai dari kejatuhan Demokrat,
kemudian penangkapan Presiden PKS,
dan beberapa kasus kriminal yang
dimunculkan beberapa kali pasca
penetapan Anas sebagai tersangka.
Berdasarkan pola ini, saya berpikir
bahwa Hercules merupakan korban
pertarungan politik para preman-preman
berdasi. Tak bermaksud mengatakan
Hercules bersih dari sangkaan, tetapi
lebih dari itu Hercules dipasang
diantara Anas dan Prabowo. Menutupi
jejak perlawanan Anas yang tengah
berupaya membacakan pada kita
halaman-halaman berikut dari kasusnya
hingga melancarkan serangan senyap
pada tokoh yang selama ini diberitakan
dekat dengan Hercules yakni Prabowo.
Alam politik negeri ini memang
tampaknya sedang mengarahkan kita
pada ironi negeri para mafia. Negeri
dimana preman merupakan lapisan
terbawah dan mafia sebagai lapisan atas
berkuasa penuh menempatkan situasi
sesuai kepentingan mereka. Kita bisa
menduga dengan baik kemana seluruh
arus media ini akan berujung.
Bagaimana pendapat anda?

keindahan setiap kata terucap dari keimanan di dalam hati.
….serpihan hati….

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s